Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Struktur Organisasi Partai Komunis, Metode dan Cara Kerjanya

Bagian I

Diterjemahkan dari The Organisational Sructure of the Communist Parties, the Methods and Content of Their Work
Dokumen Kongres III KOMINTERN di Moscow, Juli-Agustus 1921
http://indomarxist.tripod.com

I.PRINSIP-PRINSIP UMUM

Bentuk-bentuk organisasi partai harus selalu disesuaikan dengan kondisi‑kondisi dan tujuan dari aktivitasnya. Pada setiap tahap perjuangan kelas revolusioner dan dalam periode peralihan menuju sosialisme yang merupakan tahap pertama dalam perkembangan masyarakat komunis‑ partai Komunis harus menjadi pelopor (vanguard) dan bagian yang termaju dari kaum proletar.

Tidak ada satupun bentuk organisasi yang secara mutlak tepat untuk diterapkan bagi seluruh partai Komunis di sepanjang jaman. Karena kondisi‑kondisi perjuangan kelas proletar terus menerus berubah maka pelopor proletariat pun harus selalu mencari bentuk-bentuk organisasi yang efektif, sehingga ia selalu bisa menjawab setiap perubahan yang terjadi. Kondisi‑kondisi khas yang terdapat di setiap negeri mengharuskan adanya penyesuaian dari partai‑partai Komunis setempat. Walaupun demikian, perbedaan‑perbedaan itu ada batasnya. Memang perjuangan kelas proletar itu beragam dari satu negeri ke negeri lainnya, sesuai dengan tahapan revolusinya, namun gerakan Komunis Internasional memandang tetap adanya kesamaan kondisi, sebagai sesuatu yang sangat penting untuk diperhitungkan. Justru kesamaan inilah yang menjadi basis bagi organisasi‑organisasi partai Komunis di semua negeri. Berdasar hal ini, adalah sangat penting untuk mengembangkan dan memperbaiki organisasi‑organisasi partai Komunis yang selama ini ada. Namun ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk menerapkan model yang baru atau untuk menerapkan bentuk‑bentuk organisasi yang ideal bagi partai‑partai tersebut.

Kaum borjuasi masih menguasai dunia, oleh karena itu partai‑partai Komunis dan Komunis Internasional sebagai satu kesatuan partai dari proletariat revolusioner seluruh dunia, memiliki satu kondisi yang sama, yaitu mereka harus sama‑sama memeranginya. Dalam periode‑periode mendatang, tugas terpokok dari seluruh partai Komunis adalah menaklukan borjuasi dan merebut kekuasaan darinya. Oleh karena itu, seluruh kerja organisasional dari partai-partai Komunis di negeri‑negeri kapitalis harus diarahkan untuk membentuk organisasi‑organisasi sedemikian rupa, sehingga mereka mampu menjamin dan mengawal kemenangan revolusi proletar dalam melawan kelas‑kelas pemilik alat produksi.

Kepemimpinan adalah syarat yang diperlukan bagi setiap tindakan politik dan ia merupakan faktor vital di tengah perkembangan yang sedemikian pentingnyanya dalam sejarah dunia. Pengorganisasian sebuah partai komunis pada hakekatnya adalah pengorganisasian kepemimpinan Komunis dalam kancah revolusi proletar.Agar partai menjadi pimpinan yang baik maka ia pun harus memiliki kepemimpinan yang baik pula. Oleh karena itu, tugas organisasional kita yang paling prinsipil adalah pembentukan organisasi dan pendidikan terhadap Partai Komunis. Hal ini dijalankan oleh organ‑organ yang berpengalaman, agar partai menjadi pimpinan yang efektif bagi gerakan proletariat revolusioner.

Untuk bisa menjalankan kepemimpinan dalam perjuangan kelas revolusioner, Partai Komunis dan organ‑organ pimpinannya harus memiliki daya juang besar, yang digabungkan dengan kem ampuannya untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi perjuangan. Lebih jauh lagi, untuk bisa menjalankan kepemimpinannya, Partai Komunis harus menjalin hubungan yang sedekat mungkin dengan massa proletar. Jika hubungan yang demikian itu tidak terjalin maka para pimpinan tidak akan bisa memimpin massa, paling jauh mereka hanya akan membuntut di belakang massa.
Hubungan sedekat mungkin dengan massa hanya akan bisa dicapai jika Partai Komunis mempraktekan sentralisme demokrasi.

II.TENTANG SENTRALISME DEMOKRASI

Sentralisme demokrasi dalam Partai Komunis haruslah merupakan sintesis yang riil, yakni sebuah penggabungan antara sentralisme dengan demokrasi proletar. Penggabungan ini hanya akan bisa dicapai jika organisasi partai terus menerus bekerja dan berjuang bersama‑sama sebagai satu kesatuan yang utuh. Sentralisasi dalam Partai Komunis bukanlah sentralisasi yang formal dan mekanik, melainkan sentralisasi aktivitas kaum komunis, untuk membangun kepemimpinan yang kuat, siap tempur, efektif dan sekaliqus fleksibel.

Sentralisas1 formal dan mekanik hanya akan mengakibatkan sentralisasi "kekuasaan" di tangan birokrasi partai, yang memungkinkan mereka mendominasi seluruh anggota partai atau massa proletariat revolusioner yang berada di luar partai. Hanya musuh-musuh Komunisme lah yang menganggap Partai Komunis hendak menggunakan kepemimpinannya terhadap perjuangan kelas proletar dan sentralisasi kepemimpinan Komunisnya ini untuk mendominasi proletariat revolusioner. Anggapan demikian adalah keliru besar. Demikian juga, setiap persaingan maupun perebutan kekuasaan dalam partai tidaklah sesuai dengan prinsip-prinsip sentralisme demokrasi yang diterapkan oleh Komunis Internasional.

Dalam organisasi gerakan buruh yang lama dan yang tidak revolusioner, telah muncul juga dualisme sebagaimana yang selama ini melekat dalam, organisasi negara borjuis: yakni dualisme antara "birokrasi": dengan "rakyat". Di bawah pengaruh lingkungan borjuasi yang bersifat melemahkan, telah terjadi pemisahan fungsi‑fungsi; demokrasi formal telah menggantikan partisipasi aktif rakyat pekerja. Sebagai akibatnya, organisasi kemudian dibagi antara para fungsionaris yang aktif dan massa yang pasif. Bahkan gerakan buruh yang revolusioner pun belum sepenuhnya terbebaskan dari pengaruh lingkungan borjuasi, borok‑borok formalisme dan dualisme semacam ini.

Partai-Partai Komunis harus mampu mengatasi kontradiksi-kontradiksi ini secara tuntas. Hal ini dilakukan dengan menjalankan kerja politik dan organisasional secara terencana serta terus menerus melakukan perbaikan dan perubahan.
Dalam menjalankan perubahan dari Partai massa Sosialis menjadi Partai Komunis, partai jangan hanya melakukan pemindahan kekuasaan ke Komite Sentral namun lalai dalam melancarkan perubahan‑perubahan dalam seluruh tatanan organisasinya. Sentralisasi jangan hanya disepakati dalam teori; ia harus diwujudkan dalam praktek. Dan ini hanya akan mungkin dicapai jika seluruh anggota melihat sentralisasi ini secara positif dalam rangka memperkuat kerja dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berjuang. Jika tidak demikian, maka massa akan melihat sentralisasi ini sebagai birokratisasi ­partai, dan akhirnya mereka akan menentang setiap upaya untuk memperkenalkan sentralisasi, kepemimpinan dan disiplin yang kuat.
Anarkisme dan birokratisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Demokrasi formal dalam organisasi tidak dapat mengatasi kecenderungan birokratik dan anarkistik dalam gerakan buruh, karena justru kedua kecenderungan ini terlahir dari demokrasi semacam ini.

Setiap upaya untuk mencapai sentralisasi organisasi dan kepemimpinan yang kuat tidak akan berhasil selama kita mempraktekkan demokrasi formal. Kita harus mengembangkan dan menjaga jaringan, hubungan serta kesatupaduan kerja, baik itu dalam partai sendiri, yaitu antara organ‑organ pimpinan dengan jajaran anggotanya, maupun antara partai dengan massa proletar yang ada di luar partai.

III.TENTANG KEWAJIBAN KERJA KAUM KOMUNIS

Partai Komunis harus menjadi sekolah kerja bagi Marxisme revolusioner. Hubungan yang organik antar organ partai dan antar anggota hanya akan terbina melalui kerjasama sehari-hari dalam organisasi‑organisasi partai.
Selama ini, partai‑partai Komunis legal belum sepenuhnya berhasil menggalang seluruh anggotanya dalam pekerjaan aktif sehari‑hari. Hal ini merupakan hambatan yang sangat besar untuk memajukan dan mengembangkan partai.
Tahap‑tahap awal perubahan dari partai buruh menjadi sebuah partai Komunis seringkali tidak lebih dari sekedar pencantuman program Komunis saja: yakni hanya menggantikan doktrin lamanya dengan Komunisme dan menggantikan pengurus-pengurus partai yang anti-komunis dengan orang-orang Komunis. Namun penerimaan terhadap program Komunis tak lebih dari sekedar menggambarkan keinginan partai tersebut untuk menjadi partai Komunis. Jika partai gagal menjalankan kerja Komunis dan jika massa anggotanya dibiarkan pasif, maka partai tidak akan bisa memenuhi kewajibannya yang paling minimum sekalipun, sebagaimana yang diamanatkan oleh program Komunis. Karena syarat yang paling utama menjalankan program adalah partisifasi secara penuh seluruh anggota dalam pekerjaan sehari-hari partai.

Seni menjalankan organisasi Komunis terletak pada kemampuannya untuk melibatkan segala hal dan semua orang dalam perjuangan kelas proletar, melakukan pendistribusian partai kerja partai secara efektif dikalangan seluruh anggota dan melalui anggota-anggota ini, terus menerus menarik massa proletar seluas mungkin ke dalam gerakan revolusioner. Artinya, partai harus selalu berada dalam posisi memimpin seluruh gerakan. Posisi kepemimpinan ini tidak diperoleh partai melalui pemaksaan kekuatan, namun melalui energinya yang besar, kemampuannnya yang beragam, pengetahuannya yang luas, pengalamanannya yang banyak dan fleksibilitasnya.
Sebuah partai Komunis haruslah terdiri dari orang-orang yang aktif saja, dan ia akan menuntut setiap jajaran anggota partai untuk mencurahkan segenap tenaga dan waktunya untuk pekerjaan partai. Disamping memiliki komitmen terhadap gagasan-gagasan komunisme, para anggota partai Komunis juga harus didaftarkan secara resmi, didahului dengan masa pencalonan, kemudian menjadi anggota resmi, membayar iuran anggota, berlangganan koran partai, dan sebagainya. Namun yang terpenting dari semua ini adalah keterlibatannya secara aktif dalam pekerjaan sehari-hari partai.
Agar bisa menjalankan pekerjaan sehari‑hari, tiap‑tiap anggota partai harus bergabung ke dalam group/kelompok kerja kecil seperti: sebuah komite, komisi, badan, group, fraksi maupun sel. Hanya dengan cara inilah kerja‑kerja partai dapat didistribusikan, diarahkan dan dijalankan secara tepat.

Tentu saja para anggota harus menghadiri pertemuan-pertemuan, rapat‑rapat umum yang diadakan organisasi-organisasi lokal mereka; dan sebuah partai Komunis yang legal jangan sampai tidak menyelenggarakan pertemuan‑pertemuan umum ini dan kemudian menggantinya dengan pertemuan‑pertemuan para perwakilan saja. Seluruh anggota partai berkewajiban untuk menghadiri pertemuan-pertemuan umum secara reguler. Namun hal ini tidaklah cukup. Persiapan-persiapan untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan semacam ini haruslah terlebih dahulu dilakukan oleh group-group kecil atau oleh kawan-kawan yang diserahi tugas melakukan perencanaan secara rinci bagi penyiapan dan penyelenggaraan pertemuan. Group‑group kecil ini secara efektif akan menggunakan dan mempersiapkan pertemuan‑pertemuan umum kaum buruh, demonstrasi‑demonstrasi maupun aksi massa kelas buruh. Hanya group‑group kecil seperti inilah yanq mampu mengkaji dan menjalankan sejumlah tugas lain yang berhubungan dengan aktivitas‑aktivitas semacam ini. Jika seluruh anggota tidak dibagi‑bagi ke dalam sejumlah qroup kecil, kedalam kerja sehari-hari bagi partai, maka semilitan apapun upaya yang dilakukan kelas buruh dalam memajukan perjuangan kelas, tidak akan membuahkan apa-apa, dan ia akan gagal mengkonsolidasikan seluruh tenaga proletariat revolusioner menjadi satu Partai Komunis yang kuat.

Sel‑sel Komunis harus dibentuk untuk menjalankan kerja sehari‑hari dalam berbagai lapangan aktivitas partai, seperti: agitasi dari rumah ke rumah, penyelenggaraan sekolah‑sekolah partai, kelompok pembaca surat kabar/koran partai, pendistribusian bahan bacaan, jasa pelayanan informasi, kerja‑kerja kurir dan sebagainya.
Sel‑sel Komunis merupakan unit‑unit dasar untuk menjalankan kerja sehari-hari Partai Komunis di pabrik-pabrik, serikat-serikat buruh, detasemen-detasemen militer dan di semua tempat dimana terdapat anggota maupun calon anggota partai, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Dimana di suatu tempat, seperti di pabrik, serikat buruh dan sebagainya, terdapat anggota partai dalam jumlah besar, maka harus segera dibentuk fraksi yang kerja‑kerjanya diarahkan oleh sel Komunis.
Tujuan dari pembentukan sel‑sel Komunis secara tersendiri adalah untuk merebut kepemimpinan di suatu tempat. Hal ini bisa dijalankan baik melalui pembentukan fraksi yang beroposisi secara meluas terhadap kepemimpinan yang ada atau melalui keterlibatan secara aktif dalam fraksi‑fraksi yang‑sudah ada.

Permasalahan apakah sel Komunis harus menyatakan afiliasi partainya secara terbuka atau tidak, semuanya tergantung pada situasinya. Harus ada pengkajian terlebih dahulu mengenai keuntungan maupun kerugian dari tindakan‑tindakan semacam ini.
Pengenalan secara umum tentang kewajiban kerja dalam partai dan tentang group‑group kerja yang kecil ini merupakan tugas yang sangat sulit bagi partai‑partai Komunis yang berkarakter massa. Hasilnya tidak bisa kita peroleh dalam satu malam; untuk itu sangat diperlukan kesabaran, pertimbangan yang matang dan energi yang besar.

Sejak awal, pengenalan langgam kerja organisasi ini harus dilakukan sangat hati‑hati serta didahului dengan diskusi yang mendalam. Tentu merupakan hal yang mudah saja bagi partai untuk sekedar menempatkan para anggotanya ke dalam sel‑sel maupun group‑group kecil supaya mereka mudah terlibat dalam pekerjaan sehari‑hari partai, sebagaimana yanq selama ini tercantum dalam skema formal yang ada. Akan tetapi lebih baik tidak memulai pekerjaan dengan cara‑cara demikian, karena ini hanya akan memunculkan ketidakpuasan dan kebingungan di kalangan anggota partai terhadap langgam kerja baru ini.

Adalah sangat penting bagi organ‑organ pimpinan partai untuk mengadakan diskusi/konsultasi secara rinci dengan anggota-anggota partai. Diskusi harus dilakukan sesama Komunis yang teguh hati, tulus serta sebagai organisator yang cakap, yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap situasi umum gerakan buruh di berbagai pusat gerakan di seluruh negeri. Berdasarkan penemuan‑penemuan inilah organ pimpinan partai kemudian menyusun prinsip‑prinsip dasar bagi metode kerja yang baru. Selanjutnya, para instruktur, organisator atau komisi pengorganisasian harus menyiapkan rencana kerja pada tingkat lokal, memilih pimpinan-pimpinan group serta melancarkan kampanye tentag langgam kerja yang baru ini. Setelah semua ini diselesaikan maka seluruh organisasi, group-group kerja, sel‑sel dan individu‑individu yang diberi tugas‑tuqas secara kongkrit, jelas, disepakati, diperlukan, partai harus memberikan peragaan bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Dalam hal ini, peragaan dan pengarahan harus difokuskan pada kemungkinan munculnya kekeliruan yang harus dihindari dalam pelaksanaan tugasnya.

Reorganisasi harus dilakukan setahap demi setahap. Organisasi‑organisasi lokal jangan sampai tergesa‑gesa membentuk terlalu banyak sel dan group‑group kerja baru sekaligus. Para anggota partai harus diberi kesempatan untuk belajar terlebih dahulu dari pengalaman keberhasilan dalam pengorganisasian sel-sel di pabrik‑pabrik besar dan di serikat‑serikat buruh. Dan para anggota harus juga belajar dari pengalaman pembentukan group-group kerja partai yang menangani informasi, komunikasi, agitasi dari rumah ke rumah, gerakan perempuan, distribusi koran, mengurus pengangguran atau semacamnya. Bentuk‑bentuk organisasi yang lama jangan lah semena‑mena dibubarkan jika kerangka organisasi yang baru belum terbangun.
Akan tetapi, kerja organisasional Komunis harus selalu dilakukan dengan penuh keteguhan hati dalam meraih tujuan. Tugas ini berlaku tidak saja bagi semua partai legal, namun juga bagi semua partai illegal. Partai harus selalu mengembangkan kerja organisasional ini, hingga jaringan sel‑sel Komunis, fraksi-fraksi dan group‑group kerja berhasil dibentuk di seluruh pusat perjuangan massa proletar, hingga partai menjadi kuat dan jelas arah tujuan perjuangannya, hingga seluruh anggotanya terlibat secara penuh dalam pekerjaan revolusioner sehari‑hari dan, untuk kemudian, menerima keterlibatannya ini sebagai suatu kewajaran.

Organ-organ pimpinan partai jangan sampai lengah dalam mengontrol kerja-kerja elementer organisasional ini dan ia harus selalu memberikan arahannya secara konsisten. Hal ini menuntut upaya yang sungguh‑sungguh keras dari kawan‑kawan pimpinan partai. Kepemimpinan dalam Partai Komunis tidak hanya bertanggung-jawab dalam memastikan selesai atau tidaknya suatu pekerjaan, namun ia juga harus membantu dan mengarahkan pekerjaan ini secara sistematis. Untuk itu, kawan‑kawan pimpinan harus membekali diri dengan dengan pemahaman praktis terhadap kondisi khas yang melingkupi dan menjadi orientasinya. Mereka juga harus mengawasi jika terjadi kekeliruan. Mereka harus memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan mereka untuk memperbaiki metode kerja, tanpa melupakan tujuan-tujuan perjuangannya.
Kerja partai ini selain meliputi perjuangan praktis dan teoritis secara langsung, juga meliputi kerja‑kerja persiapan untuk melaksanakan kedua perjuangan tadi. Selama ini pengorganisasian kerja partai dijalankan secara kurang memuaskan. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sebenarnya sangat penting namun tidak dilaksanakan secara sungguh‑sungguh, misalnya adalah kerja-kerja partai legal dalam menangkal agen‑agen polisi rahasia negara. Masalah lainnya adalah tentang materi training terhadap kawan‑kawan, pelaksanaannya sering dilakukan secara sembarangan dan tidak serius sehingga sebagian besar anggota bahkan tidak memahami program‑program partai atau resolusi‑resolusi yang dikeluarkan oleh Komunis Internasional. Seluruh organisasi dan group‑group kerja partai harus mendidik para anggotanya secara sistematik dan reguler, dengan demikian mereka bisa didorong untuk menjalankan spesialisasi‑spesialisasi yang lebih tinggi lagi.

Salah satu kewajiban organisasi Komunis adalah membuat laporan. Hal ini berlaku bagi seluruh organisasi, organ dan para anggota. Laporan‑laporan reguler harus dibuat sesuai dengan jadwalnya, sementara laporan-laporan khusus juga dibuat bagi setiap tugas khusus yang telah dijalankan atas instruksi partai. Adalah penting untuk membuat dan menyusun laporan tersebut secara sistematik sesuai dengan prosedur laporan dari tradisi gerakan Komunis.

Partai harus membuat laporan kegiatannya secara reguler kepada organ pimpinan Komunis Internasional. Setiap organisasi partai harus menyajikan laporannya kepada komite yang tepat berada di atasnya (sebagai contoh: organisasi lokal harus membuat laporan bulanannya ke komite lokal partai).
Tiap-tiap sel, fraksi dan group kerja harus membuat laporan kepada organ partai yang memimpinnya. Sementara itu, seluruh anggota juga harus membuat laporan tentang kemajuan kerja mereka seminggu sekali kepada sel atau group kerjanya, dan kepada organ partai yang telah memberinya tugas khusus.

Laporan harus selalu dibuat begitu ada kesempatan. Laporan-laporan itu bisa disampaikan secara lisan jika memang partai ataupun organ yang bersangkutan tidak khusus memintanya secara tertulis. Laporan harus ringkas dan dan langsung ke pokok masalah. Orang yang menerima laporan harus bertanggung jawab untuk mengamankan informasi tersebut dan jangan sampai mempublikasikannya. Begitu dia menerima laporan, dia harus segera menyampaikannya tanpa ditunda-tunda kepada organ partai yang bersangkutan.

Tentu saja, laporan‑laporan partai ini tidak hanya memuat aktivitas Si Pembuat laporan. Si Pelapor juga harus menyampaikan seluruh hasil pengamatannya selama dia menjalankan pekerjaan partai, terutama mengenai hal‑hal yang bersangkutan dengan perjuangan. Yang dimaksudkan disini adalah hal-hal yang sekiranya akan bisa dipertimbanqkan untuk mendorong perubahan-perubahan maupun untuk perbaikan-perbaikan kerja selanjutnya. Para anggota harus menyampaikan usulan‑usulan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam dalam pelaksanaan kerja partai. Sel-sel Komunis, fraksi-fraksi dan group-group kerja harus mendiskusikan seluruh laporan yang mereka terima atau yang mereka sampaikan. Diskusi terhadap isi laporan harus menjadi kebiasaan dalam kerja.

Sel-sel maupun group-group kerja harus menugaskan setiap anggota maupun setiap group-groupnya untuk secara teratur mempelajari dan melaporkan aktivitas-aktivitas organisasi buruh yang didominasi elemen borjuis kecil dan terutama sekali, seluruh organisasi partai-partai “sosialis”. Bersambung.........
Read more ...

Senin, 30 Mei 2011

Filsafat

I. PENGERTIAN FILSAFAT

1. ARTI FILSAFAT

Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu dan suatu metode berfikir untuk memecahkan problem-problem gejala alam dan masyarakat. Filsafat merupakan sikap hidup manusia dan sebagai pedoman untuk bertindak dalam menghadapi gejala-gejala alam dan masyarakat. Filsafat bukan suatu kepercayaan yang dogmatis dan membuta.

2. PENGENALAN FILSAFAT

Persoalan pokok dalam filsafat adalah Sejarah adanya pertentangan antara ide dan materi.
Orang yang mengatakan ide ada lebih dahulu ketimbang materi, maka dia sering di sebut idealis. Sedangkan yang mengatakan materi ada lebih dahulu, maka dia di sebut materialis. Namun antara keduanya tentu tidak dapat di pisah-pisahkan. Keduanya harus runtut dan berkaitan. Karena ide tanpa di materialkan maka akan sia – sia, begitu juga dengan materi, tanpa tau teorinya maka tidak akan jadi apa – apa. Namun kita harus paham manakah yang primer dan mana yang sekunder?

Adanya serikat buruh di tempat kita bekerja, tentunya bukan muncul secara kebetulan. Namun adanya serikat buruh di karenakan adanya persoalan bersama yang tidak bisa di selesaikan secara indifidu. Sehingga dari banyaknya persoalan yang di alami oleh buruh maka berkumpulah kita untuk membentuk kelompok diskusi. Dari kelompok diskusi kemudian terbentuklah serikat buruh. Itu menunjukan bahwa, munculnya serikat buruh bukan karena kebetulan dan juga ikut – ikutan. Lahirnya Serikat Buruh bukan karena semata-mata lahir dari ide, atau dalam kata lain “jangan kita berserikat tanpa tau tujuan dari serikat itu sendiri”. Dari pemaparan tersebut dapat di simpulkan bahwa, ketika kita punya persoalan bersama dan mau menuntut untuk memperbaikinya, maka kita meski bicara strategi. Memang jika kita bicara strategi, cukup banyak strategi yang bisa di pakai. Tetapi pasti ada tahapannya. Disinilah kemudian kita harus melilih dan menentukan strateginya. Pertanyaanya kemudian, apakah kita mau berjuang sendiri, atau secara bersama-sama? Kalau bersama tentu harus ada wadahnya, atau alatnya yaitu Serikat buruh. Berarti tahapan yang mungkin di lakukan adalah berdiskusi menuju pembentukan Serikat buruh. Ini hanya tahapan-tahapan atau tekhnis menetukan strategi, tanpa bermaksud menegasikan persoalan pokoknya. Upah layak harus di rebut, Cuti harus di jalankan, jamsostek dan tunjangamn yang lain juga harus kita dapatkan. Namun semua butuh stratergi yang matang.

Tuntutan buruh adalah tuntutan yang sangat realistis, karena semua itu muncul berdasarkan fakta bahwa, saat ini penghasilan yang di dapat oleh buruh sangat tidak mencukupi bagi keberlangsungan hidup para buruh. Adanya kebutuhan hidup yang tidak bisa di tunda. Kondisi ini tentunya bisa kita rasakan dan itu sebuah kenyataan, karena materialisme selalu bicara berdasarkan kenyataan yang ada dan bukan mengada-ngada.

3. PERSOALAN DAN KATEGORI FILSAFAT

Filsafat mempersoalkan masalah-masalah etika/moral, aestetika/seni, sosial/politik, epistimologi/tentang pengetahuan, ontologi/tentang manusia. Kategori persoalan filsafat meliputi soal-soal hubungan antara bentuk dan isi, sebab dan akibat, gejala dan hakekat, keharusan dan kebetulan, keumuman dan kekhususan.
Filsafat mempersoalkan soal-soal yang pokok. Sedang soal yang terpokok dari persoalan filsafat adalah soal hubungan antara ide dan materi, fikiran dan keadaan. Mana yang primer dan mana yang sekunder diantara keduanya itu, ide atau materi, fikiran atau keadaan. Jawaban dari persoalan yang terpokok tersebut akan membagi semua aliran filsafat menjadi dua kubu, kubu Filsafat Idealisme dan kubu Filsafat Materialisme.
Semua aliran filsafat yang memandang dan menyatakan ide atau fikiran sebagai hal yang primer, dan materi atau keadaan sebagai hal yang sekunder, termasuk dalam kubu filsafat idealisme. Sebaliknya, semua aliran filsafat yang memandang dan menyatakan materi atau keadaan sebagai hal yang primer, dan ide atau fikiran sebagai hal yang sekunder, termasuk dalam kubu filsafat materialisme.

4. ALIRAN DAN KUBU FILSAFAT

Filsafat mempunyai banyak sekali aliran. Tapi dari semua aliran yang banyak sekali itu bisa dibagi hanya dalam dua kubu, kubu filsafat idealisme dan kubu filsafat materialisme.
Aliran pokok filsafat adalah idealisme dan materialisme. Tapi disamping dua aliran pokok itu, terdapat aliran filsafat dualisme. Walau begitu, aliran filsafat dualisme pada hakekatnya juga termasuk aliran filsafat idealisme. Karena itu aliran filsafat dualisme juga termasuk kubu filsafat idealisme.
Filsafat dualisme pada hakekatnya juga filsafat idealisme karena pandangannya didasarkan pada ide yang mereka-reka. Filsafat dualisme yang memandang ide dan materi, fikiran dan keadaan, sebagai hal yang kedua-duanya primer. Tidak ada yang sekunder. Pandangan itu jelas tidak berdasarkan kenyataan. Itulah idealismenya filsafat dualisme.

5. WATAK DAN KELAS FILSAFAT

Filsafat selalu mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas tertentu. Karena itu filsafat selalu mempunyai dan merupakan watak dari suatu klas. Filsafat Idealisme mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas pemilik alat produksi yang menindas dan menghisap yaitu klas-klas tuan budak atau pemilik budak, klas tuan feaodal atau tuan tanah, klas borjuis atai kapitalis, dsb. Sebaliknya filsafat materialisme mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas bukan pemilik alat produksi yang tertindas dan terhisap yaitu klas buruh, dsb. Sedang filsafat dualisme mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas pemilik alat produksi tapi yang tertindas dan juga terhisap yaitu klas borjuis kecil.

6. PENTINGNYA BERFILSAFAT DAN CARA BELAJAR FILSAFAT

Berfilsafat itu penting. Dengan berfilsafat, orang akan mempunyai pedoman untuk bersikap dan bertindak secara sadar dalam menghadapi gejala-gejala yang timbul dalam alam dan masyarakat. Kesadaran itu akan membuat sesorang tidak mudah digoyahkan dan diombang-ambingkan oleh timbul-tenggelamnya gejala-gejala yang dihadapi.
Untuk berfilsafat, orang harus belajar filsafat. Dan belajar filsafat harus dengan cara yang benar. Cara belajar filsafat ialah harus menangkap ajaran dan pengertiannya secara ilmu, lalu memadukan ajaran dan pengertian itu dengan praktek, selanjutnya mengambil pengalaman dari praktek itu, dan kemudian menyimpulkan praktek itu secara ilmu.

7. ARTI BERFILSAFAT

Berfilsafat berarti bersikap dan bertindak secara sadar berdasarkan ilmu dan metode berfikir terhadap gejala-gejala alam dan masyarakat yang dihadapi.
Berfilsafat bukan bersikap dan bertindak secara tradisi, menurut kebiasaan atau berdasarkan naluri turun-temurun dalam menghadapi dan memecahkan problem-problem gejala-gejala itu.

8. RANGKUMAN TENTANG FILSAFAT :

A. Filsafat adalah cara memandang sesuatu hubungan berdasarkan naluri/dunia (aspek hubungan dunia subyektif) dan dunia (aspek obyektif)
Jelaskan: Berfilsafat berarti menggali pokok persoalan yang muncul/yang ada di hadapan kita secara nyata, yang bisa kita lihat, kita rasakan, bisa kita raba, untuk kemudian mencari jalan keluarnya dengan mengambil langkah langkah yang benar berdasarkan kondisi obyektifnya.

B. Kegunaan filsafat adalah sebagai alat untuk mencari sesuatu yang ilmiah, yang bisa di terima secara akal sehat, berdasarkan pandangan obyektif. Jelaskan: Contoh: Mayoritas buruh ketika menghadapi persoalan yang ada/kasus maka buruh tidak akan lagi bisa berfikir secara jernih, misalkan ketika perusahaan memPHK dirinya dengan alasan Efisiensi, Bangkrut, atau Rugi. Kemudian tanpa di berikan haknya sesuai dengan aturan, maka karena cara pandang yang di pakai hanya sekilas dan mengikuti apa yang di sampaikan perusahaan, maka buruh dengan mudah menerima karena takut bila tidak di terima, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena kita dengan mudah percaya bahwa perusahaan bangkrut dan sudah nggak punya uang. Sehingga tanpa berfikir panjang dan mencari kebenaran apa yang terjadi, ia akan menerima. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah pengusaha memPHK hanya ingin merubah status buruhnya yang semula tetap menjadi kontrak.

C. Perlunya kita berfilsafat adalah supaya kita mampu menilai sesuatu dan memahami sesuatu itu berdasarkan kebenaran yang hakiki.
Jelaskan: Orang yang berfilsafat maka dia sangat jeli dalam memilih dan menetukan sesuatu tindakan, karena berdasarkan pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan, kaya strategi dan ia bicara/bertindak berdasarkan bukti. Dengan begitu maka ia tidak akan mudah menyerah, karena pisau analisanya cukup tajam.

II. TENTANG FILSAFAT M.D.H.

1. Arti M.D.H.

M.D.H. adalah materialisme Dialektik dan Materialisme Histori. Materialisme Dialektik berarti pandangannya materialis dan metodenya dialektis. Sedang Materialisme Historis berarti Materialisme Dialektika yang diterapkan dalam gejala sosial atau masyarakat.

2. Lahirnya M.D.H dan Penciptanya

Filsafat M.D.H lahir sesudah lahirnya berbagai macam filsafat yang pandangannya materialis atau yang metodenya dialektis. Sedang penciptanya adalah Karl Marx.

Filsafat M.D.H. merupakan hasil kesimpulan dan ciptaan Karl Marx sesudah Karl Marx belajar dan mengambil dari kebenaran ajaran pandangan Filsafat Materialisme Faeuerbach dan metode filsafat dialektik Hegel. Karl mengambil isinya yang benar dari pandangan materialis filsafat Feuerbach dan membuang kulitnya yang salah dari metodenya yang metafisis. Selanjutnya Karl Marx mengambil isinya yang benar dari metode dialektis filsafat Hegel dan membuang kulitnya yang salah dari pandangannya yang idealis.
Karl Marx menerima kebenaran pandangan materialme filsafat Feuerbach, tapi menolak kesalahan metodenya yang metafisis. Juga Karl Marx menerima kebenaran metode dialektis filsafat Hegel, tapi menolak kesalahan pandangannya yang idealis.
Kesimpulan dari itu Karl Marx menciptakan Filsafat M.D.H dan lahirlah filsafat M.D.H. Karl Marx.

3. Ciri dan Watak Klas M.D.H.

Ciri-ciri filsafat M.D.H. ialah; Ilmiah, Objektif, Universal, Praktis, Lengkap dan Revolusioner.
Ilmiah, karena metodenya dialektis.
Objektif, karena pandangannya materialis.
Universal, karena ajarannya tidak hanya berlaku didalam alam, tapi juga berlaku didalam masyarakat.
Praktis, karena ajarannya dapat dibuktikan dan dilaksanakan.
Lengkap, karena ajarannya tidak hanya bicara soal alam, tapi juga soal masyarakat.
Revolusioner, karena ajarannya selalu berpihak kepada apa yang sedang tumbuh dan melawan apa yang sedang melayu berdasarkan hukum perkembangannya. Selanjutnya selalu menuntut penghancuran terhadap apa yang sudah tua, dan membangun yang baru dan lebih maju.
Filsafat M.D.H. mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas bukan pemilik alat produksi yaitu klas buruh atau klas proletar yang tertindas dan terhisap, serta merupakan satu-satunya filsafat yang berpihak kepada klas buruh atau klas proletar itu.

4. M.D.H. dan Klas Buruh serta Peranannya

Filsafat M.D.H. merupakan senjata moril bagi perjuangan klas buruh. Tanpa filsafat M.D.H, perjuangan klas buruh tidak akan mempunyai kekuatan raksasa. Perjuangan tidak akan mencapai hasil yang fundamentil, dan akan gagal. Sebaliknya, klas buruh merupakan senjata materiil bagi filsafat M.D.H. Tanpa klas buruh, filsafat M.D.H. tidak akan mempunyai kekuatan dan tidak akan ada artinya sebagai ilmu sosial. Sebab, hanya klas buruh yang mampu dan konsekuen melaksanakan ajaran Filsafat M.D.D. didalam praktek.

5. Pentingnya Berfilsafat M.D.H.

Filsafat M.D.H. adalah filsafat yang benar. Karena itu berfilsafat M.D.H. penting. Dengan berfilsafat M.D.H, orang akan memiliki ilmu berfikir, pandangan dan metode berfikir yang benar. Dengan itu berarti mempunyai pedoman yang tepat untuk mengambil sikap dan bertindak yang tepat dalam menghadapi gejala-gejala dan memecahkan problem-problemnya yang timbul didalam alam dan masyarakat.

Dengan begitu, orang yang berfilsafat M.D.H. akan memiliki pandangan yang jauh kedepan dan revolusioner. Juga akan mempunyai sikap yang teguh dan konsekuen, tidak mudah digoyahkan dan dombang ambing oleh keadaan atau oleh gejala-gejala yang dihadapi.

6. Cara Belajar Filsafat M.D.H.

Filsafat M.D.H. adalah suatu ilmu dan merupakan senjata perjuangan revolusioner klas buruh atau klas yang tertindas dan terhisap. Karena itu belajar filsafat M.D.H. harus secara ilmiah dan berwatak klas buruh, yaitu :

Dengan pendirian klas proletar dan melawan ideologi klas non-proletar yang ada didalam diri sendiri.
• Secara ilmiah dan melaksanakannnya didalam praktek.
• Menarik pengalaman dari pelaksanaan praktek dan menyimpulkan hasil praktek itu.
• Menangkap pengertian dan menggenggam semangat revolusionernya serta selalu menuntut perubahan dengan membangun yang baru dan lebih maju.
Read more ...

Sabtu, 28 Mei 2011

Sekilas Tentang Politik Praktis

ADA kecenderungan di Indonesia, terutama di kalangan anak-anak muda yang sering disebut sebagai “aktivis”, untuk melihat dunia politik praktis dengan pandangan yang agak kurang bersahabat, dengan sinis.

Yang saya maksud dengan politik praktis di sini adalah terbatas pada politik penyelenggaraan pemerintahan/negara. Tentu, definisi politik bukan hanya terbatas pada sektor itu. Tetapi sinisme yang saya maksud di sini hanyalah sebatas pada sektor politik pemerintahan dan negara.

Seseorang yang semula dihormati karena menjadi “orang bebas” yang bisa mengutarakan pendapat dan kritik secara leluasa, akan langsung kehilangan “kredibilitas moral” begitu masuk ke sektor politik.

Ada semacam standar etis yang dipakai oleh masyarakat, terutama kalangan muda. Yaitu, seseorang yang bebas dan tak terikat oleh kekuasaan politik praktis dipandang lebih mulia secara moral ketimbang yang terlibat. Tentu hal ini tak pernah dikatakan secara langsung, tetapi saya bisa merasakan hal itu melalui pergaulan saya dengan sejumlah orang saat ini.

Saya kira, sinisme semacam ini sepenuhnya bisa dipahami. Praktek politik selalu tak seindah gagasan-gagasan besar yang mengilhaminya. Praktek politik selalu “inferior” terhadap cita-cita yang melandasinya.

Saya kira sumber kekecewaan publik pada para politisi adalah sangat sederhana: para politisi selalu gagal memenuhi cita-cita atau harapan yang dikemukakan kepada publik waktu berkampanye. Janji politisi hanya indah di mulut, tetapi gagal diterjemahkan dalam dunia nyata.

Ungkapan yang kerap kita dengar adalah bahwa Si Polan yang dulunya “idealis” ternyata sama saja dengan yang lain waktu menjadi pejabat atau masuk dalam lingkaran “sistem”.

Kekecewaan publik adalah karena adanya “gap” antara ide dan pelaksanannya, antara cetak-biru dan praktek.

Saat perubahan-perubahan politik terjadi setelah jatuhnya pemerintah Orde Baru, masyarakat (saya kira yang disebut “masyarakat” di sini adalah masyarakat menengah kota) memiliki harapan yang meruap. Kata sihir yang menjadi mantra adalah “reformasi”. Kata ini adalah semacam “password” untuk membuka dunia ideal yang mereka cita-citakan.

Sebagaimana kita tahu, perubahan-perubahan politik di negeri kita tidak sepenuhnya membawa hasil sebagaimana diharapkan oleh masyarakat luas. Di sinilah muncul kekecewaan yang menyakitkan. Dari kekecewaan itulah lahir sikap sinis dan skeptis.

Biasanya, makin besar harapan, kemungkinan untuk kecewa juga kian besar pula.

Saya sendiri juga menaruh harapan yang besar terhadap perubahan-perubahan politik di Indonesia yang berlangsung selama sepuluh tahun terakhir ini. Saya tentu menyimpan banyak kekecewaan di sana-sini.

Biasanya saya langsung sedih dan kecewa saat melihat kontras antara kehidupan yang saya anggap normal dan “tertib” serta makmur sebagaimana kita saksikan di Cuba, China, dan kenyataan yang pahit sebagaimana saya saksikan di Indonesia sekarang. Gembel hampir di setiap lampu merah, rumah kumuh dimana-mana, masyarakat tinggal di bawah kolong jembatan, pokoknya kompleklah penderitaan yang di rasakan oleh masyarakat miskin yang tidak mendapatkan akses ekonomi, politik dan social budaya. Apa lagi pendidikan jauh dari harapan, disebabkan pendidikan yang sangat mahal.

Perasaan sedih dan murung langsung menyerbu tanpa ampun saat saya menginjak kaki di Jakarta. Saya sangat merasa murung karena melihat kontras gap antara si kaya dengan si miskin. Ibu kota Jakarta yang terdengar megah, mewah di tambah lagi dengan tugu Monas yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia tidak sesuai dengan realita situasi ekonomi yang masyarakat miliki.

Gap semacam ini sudah pasti ada pada setiap orang. Semua orang sudah pasti memiliki cita-citanya sendiri. Dan karena itu semua orang memiliki kekecewaannya masing-masing.

Melihat kontras itu, saya langsung kecewa, karena ada “gap” antara harapan yang ada dalam pikiran saya sendiri dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.

YANG kurang disadari oleh masyarakat luas (termasuk saya sendiri) adalah bahwa politik adalah semacam “reservoir” atau kolam besar tempat bertemunya segala macam harapan dan cita-cita. Tidak semua harapan itu klop dan saling kongruen.

Harapan masyarakat, sebagaimana kita tahu, dipengaruhi oleh aspirasi politiknya masing-masing. Sementara itu, aspirasi politik juga ditentukan oleh perbedaan paham, aliran, agama, dan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Karena tiap-tiap paham dan aliran membawa aspirasi politiknya masing-masing, maka bukan mustahil harapan politik juga beragam, dan kerapkali saling kontradiksi. Tentu ada banyak aspirasi yang saling klop; tetapi, kita tak boleh mengabaikan kenyataan bahwa aspirasi dan harapan masyarakat bisa saling tabrakan.

Ini membuat kedudukan politisi menjadi tidak mudah. Politisi berdiri sebagai semacam seorang administratur yang mengelola kolam besar tempat bertemunya cita-cita dan harapan itu. Dia harus mengatasi sejumlah harapan yang tidak sepenuhnya klop dan bersesuaian, tetapi juga kerapkali saling kontradiktif.

Belum lagi jika kita perhitungkan bahwa seorang politisi mempunyai harapan dan kepentingan sendiri. Kita tak boleh lupa, bahwa seorang politisi adalah manusia pula yang memiliki kepentingannya sendiri.

Dunia politik juga menjadi tempat di mana seluruh kepentingan saling bersaing, bahkan konflik. Di sana ada kesempatan dan kemungkinan, tetapi di sana pula terdapat banyak halangan dan kendala. Mengelola segala bentuk kepentingan yang saling tabrakan itu tentu sangat tak mudah.

Kita yang di luar arena, bisa dengan mudah mengatakan bahwa Si Polan telah melakukan pengkhianatan atas cita-cita dan harapan rakyat. Tetapi sudut pandang pelaku yang ada di dalam arena mungkin lain. Dilihat dari dalam, seorang politisi berhadapan dengan sejumlah dilema dan diombang-ambingkan oleh banyak kepentingan yang saling tubrukan. Yang lebih parah lagi juga ada tuduhan dari internal sendiri mengatakan Si Polan telah melakukan pengkhiatan atas cita-cita dan harapan rakyat.

Itulah sebabnya, saya sangat kagum pada beberapa figur politisi yang dengan sukses bisa mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dari situasi politik empiris yang tak mudah seperti itu.

Nada tulisan saya ini memang membela kaum politisi. Saya memang membela mereka, sebab saya tahu betapa sulitnya keadaan yang mereka hadapi. Kami, para intelektual, sarjana, dan aktivis, tentu dalam keadaan yang lebih enak, sebab kami hanya berharap. Politisilah yang akan mengelola harapan itu dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh konstelasi politik yang ada.

Dan saya tahu, betapa tak mudahnya mengelola harapan masyarakat! Apalagi jika kita perhitungkan bahwa dalam masyarakat demokratis, tak akan kita temukan lagi seorang “ratu adil” yang dapat membawa perubahan cepat dalam waktu yang singkat.

Dan seorang politisi itu bukan hanya mengharap tetapi berbuat, tidak harus menunggu di suap, tetapi harus menyuap sendiri. Seorang politisi itu tidak harus selalu menyoroti kesalahan orang, tetapi koreksi kesalahan sendiri. Akhir kata kualitas juga menjadi katalisator untuk mempercepat seorang politisi dalam bertarung di kancah politik, maka ayo tingkatkan kualitas anda dengan bacaan – bancaan yang bermanfaat. Jangan hanya di sibukkan dengan “game” saat berhadapan dengan computer, tetapi sibukkan dirilah dengan bacaan dan menulis. Sekian

Read more ...
Designed By VungTauZ.Com